MEGAPOLITIK.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan sedang mempertimbangkan untuk menarik negaranya keluar dari aliansi pertahanan NATO.
Pernyataan Donald Trump itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan sekutu-sekutunya terkait konflik Iran.
Wacana tersebut langsung memicu kekhawatiran terhadap masa depan keamanan kolektif di kawasan Atlantik.
Jika langkah itu benar-benar terjadi, keseimbangan militer global berpotensi berubah signifikan.
Pernyataan Trump juga menandai hubungan transatlantik yang semakin merenggang.
Trump mengungkapkan sikap tersebut dalam wawancara dengan media Inggris pada (1/4/2026).
Ia mengatakan Amerika Serikat “sangat mempertimbangkan” untuk keluar dari NATO setelah sekutu tidak memberikan dukungan dalam operasi militer terhadap Iran.
Trump bahkan menyebut aliansi itu sebagai “macan kertas” yang terlihat kuat namun dinilai tidak efektif dalam praktiknya.
Kekecewaan terhadap Dukungan Sekutu
Kekecewaan Trump muncul karena sejumlah negara anggota NATO menolak terlibat dalam konflik Iran.
Beberapa sekutu menolak memberikan akses pangkalan militer, wilayah udara, maupun dukungan langsung terhadap operasi yang dipimpin Amerika Serikat.
Situasi ini memperdalam perbedaan pandangan antara Washington dan mitra Eropa.
Trump juga menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak mendapat bantuan yang diharapkan ketika meminta dukungan keamanan.
Ia menilai aliansi tersebut tidak lagi memberikan keuntungan strategis bagi Amerika Serikat.
Kritik ini mempertegas sikap lama Trump yang kerap mempertanyakan efektivitas NATO dan beban pertahanan yang ditanggung Amerika Serikat.
Potensi Dampak terhadap Keamanan Global
Amerika Serikat selama ini menjadi kekuatan utama NATO dalam hal pendanaan dan kemampuan militer.
Jika Washington benar-benar keluar, struktur pertahanan kolektif Eropa diperkirakan akan berubah secara signifikan.
Negara-negara anggota kemungkinan harus meningkatkan kapasitas militernya sendiri untuk menjaga stabilitas kawasan.
Selain itu, ketegangan ini berakar dari konflik di Selat Hormuz, ketika beberapa sekutu menolak permintaan Amerika Serikat untuk membantu mengamankan jalur energi tersebut.
Penolakan tersebut memperburuk hubungan antara Washington dan sekutu Barat serta memperkuat wacana penarikan diri dari NATO.
Langkah keluar dari NATO juga tidak dapat dilakukan secara instan.
Dalam praktiknya, keputusan tersebut kemungkinan menghadapi hambatan politik domestik karena memerlukan persetujuan legislatif tertentu.
Meski demikian, pernyataan Trump menunjukkan bahwa perubahan besar dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat sedang dipertimbangkan secara serius. (daf)





