Jumat, 3 April 2026
Kereta Cepat

Deretan Figur Beri Sinyal Positif untuk Kereta Cepat Whoosh! Bukan Cuma Jokowi

Sisi Positif Whoosh

Kamis, 30 Oktober 2025 - 16:41

KERETA - Figur publik beri dukungan positif untuk kereta cepat Whoosh, tekankan manfaat dan efisiensi proyek/ Foto: dok. telkomsel

MEGAPOLITIK.COM - Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung atau yang dikenal dengan sebutan Whoosh sempat menjadi perhatian publik karena kecepatan dan kecanggihannya saat pertama kali diresmikan.

Namun kini, Whoosh kembali menjadi sorotan, bukan karena kecepatannya, melainkan karena persoalan finansial yang menyertainya. 

Utang proyek tersebut terungkap mencapai sekitar Rp116 triliun, angka yang menimbulkan perdebatan luas di masyarakat. 

Pemerintah pun tengah melakukan restrukturisasi pinjaman untuk menjaga keberlanjutan proyek tanpa menambah beban fiskal negara. 

Di tengah isu utang tersebut dan hujan kritik dari publik, muncul beberapa figur beri sinyal positif untuk kereta cepat Whoosh yang menilai bahwa proyek ini tetap membawa manfaat besar bagi transportasi publik dan perekonomian nasional.

Pernyataan mereka menjadi pembeda dari narasi negatif yang berkembang, menegaskan bahwa proyek transportasi publik tidak bisa hanya diukur dari sisi keuntungan finansial.

Jokowi: Transportasi Publik Diukur dari Keuntungan Sosial

Mantan Presiden Joko Widodo kembali menegaskan komitmennya terhadap pembangunan transportasi publik, termasuk proyek Whoosh

Dalam pernyataannya pada 27 Oktober 2025 di Istana Negara, Jokowi menyebut bahwa transportasi massal harus dilihat dari nilai sosial, bukan laba.

“Transportasi massal itu tidak diukur dari laba, tetapi dari keuntungan sosial,” ujar Jokowi dikutip dari detikNews.

Ia menilai proyek Whoosh adalah bagian dari transformasi transportasi nasional yang akan mempercepat mobilitas antardaerah dan memicu pertumbuhan ekonomi baru.

Budi Arie: Punya Benefit Besar

Menteri Kominfo sekaligus Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, turut menyuarakan pandangannya terkait polemik utang proyek Whoosh

Dalam wawancara dengan Forum Keadilan tanggal 29 Oktober 2025, Budi menilai proyek ini tidak bisa dinilai semata dari sisi utang.

“Benefit-nya besar, dari sisi lingkungan karena emisi berkurang, sosial ekonomi meningkat, dan mobilitas orang jadi lebih cepat. Belum lagi potensi pengembangan wilayah baru di sepanjang jalur kereta cepat,” kata Budi Arie. 

Ia menegaskan bahwa proyek strategis seperti ini memang membutuhkan waktu panjang untuk menunjukkan hasil nyata bagi masyarakat dan ekonomi nasional.

Luhut: Tidak Ada Transportasi Publik di Dunia yang Untung

Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan menekankan bahwa tidak ada transportasi publik yang langsung menguntungkan secara finansial. 

Dalam pernyataannya pada 17 Oktober 2025, Luhut menyebut pemerintah tetap berkomitmen menjaga agar proyek Whoosh efisien dan berkelanjutan.

“Tidak ada public transport di dunia ini yang menguntungkan. Selalu banyak subsidi pemerintah, tapi tentu harus subsidi yang terukur,” ujar Luhut, dikutip dari VOI.

Ia menilai restrukturisasi utang Whoosh adalah langkah wajar dalam proyek infrastruktur besar.

David Pajung: Hanya Indonesia yang Punya

Dari kalangan relawan, David Pajung menilai bahwa proyek Whoosh harus dilihat sebagai simbol kemajuan Indonesia dalam bidang teknologi transportasi. 

Dalam keterangannya yang dikutip dari Kompas.com pada 24 Oktober 2025, David mengatakan bahwa masyarakat mulai melihat sisi positif proyek tersebut.

“Untuk ukuran negara-negara  di Asia Tenggara hanya Indonesia yang punya. Di Asia hanya tiga, China, Jepang, dan Indonesia,,” ujar David. 

Ia menilai bahwa keberadaan Whoosh menjadi bukti kemampuan Indonesia membangun proyek transportasi modern berstandar tinggi, sekaligus momentum bagi publik untuk melihat manfaat jangka panjangnya.

Bestari Barus: Belum Untung Bukan Berarti Rugi

Sementara itu, Ketua DPP PSI Bestari Barus juga memberi tanggapan atas isu utang yang membayangi proyek Whoosh.

Dalam wawancara dengan CNN Indonesia TV pada 23 Oktober 2025, Bestari menilai publik tidak perlu khawatir terhadap proses restrukturisasi yang sedang dilakukan pemerintah.

“Emangnya seratus tahun ke depan Indonesia sudah nggak ada? Jadi kenapa harus takut restruktur? Negara ini akan tetap berdiri dan mampu membayar,” ujar Bestari Barus.

Ia menegaskan bahwa restrukturisasi bukan tanda kelemahan, melainkan langkah realistis agar proyek strategis nasional tetap berlanjut tanpa membebani keuangan negara. 

Menurutnya, semangat utama dari proyek seperti Whoosh harus berangkat dari niat melayani masyarakat, bukan dari ketakutan terhadap risiko ekonomi.

Utang Whoosh Rp 116 Triliun

Nilai utang proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung tercatat mencapai sekitar Rp116 triliun, berdasarkan laporan keuangan PT KCIC per pertengahan 2025.

Jumlah tersebut berasal dari pinjaman konsorsium Tiongkok melalui China Development Bank (CDB) serta pembiayaan dalam negeri. 

Pemerintah kini tengah menyiapkan skema restrukturisasi selama 60 tahun untuk Whoosh dengan estimasi cicilan sekitar Rp2 triliun per tahun, yang diproyeksikan lunas pada tahun 2084.

Kementerian Keuangan menjelaskan bahwa langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas keuangan proyek agar tidak menekan APBN.

Meski besarannya menimbulkan kritik, sejumlah ekonom menilai restrukturisasi tersebut masih rasional mengingat proyek ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi di masa depan, terutama dalam mempercepat arus logistik, mobilitas penumpang, dan pengembangan kawasan industri di jalur lintas kereta cepat

Kesimpulan

Sejumlah figur Indonesia memberikan pandangan positif terhadap proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung di tengah sorotan mengenai pembiayaan dan utang yang mencapai Rp 116 triliun.

Dukungan figur beri sinyal positif untuk kereta cepat Whoosh tersebut menjadi bagian dari dinamika diskusi publik terkait arah dan manfaat proyek transportasi kereta cepat pertama di Indonesia ini. (daf)

Populer
recommended
Jangan Lewatkan
Our Networks
Member of mediaemas.id
seedbacklink