MEGAPOLITIK.COM - Iran membuka akses terbatas di Selat Hormuz di tengah konflik yang mengganggu jalur pelayaran global.
Kebijakan ini membuat jalur strategis Selat Hormuz tersebut tidak ditutup sepenuhnya, tetapi diberlakukan pengawasan ketat terhadap kapal yang melintas.
Iran hanya mengizinkan kapal tertentu menggunakan jalur tersebut dengan koordinasi keamanan.
Langkah ini dilakukan agar arus perdagangan energi tetap berjalan.
Selat Hormuz tetap beroperasi meski dalam kondisi pembatasan.
Negara yang Disebut Tetap Melintas
Beberapa negara dilaporkan dapat mengirim kapal melalui Selat Hormuz.
Negara tersebut antara lain China dan India yang memiliki ketergantungan besar terhadap impor energi dari kawasan Teluk.
Selama pembatasan berlangsung, kapal menuju kedua negara tersebut tetap diizinkan melintas setelah melalui koordinasi tertentu.
Selain itu, kapal dari Pakistan dan Turki juga dilaporkan mendapat akses.
Bahkan, sebuah kapal milik Turki disebut telah diizinkan melintas oleh otoritas Iran dalam situasi konflik yang berlangsung.
Iran juga disebut masih membuka jalur bagi kapal yang menuju Malaysia dan Irak.
Jalur Selat Hormuz menjadi rute penting bagi perdagangan energi kawasan sehingga akses tetap dijaga secara terbatas.
Negara-negara ini dilaporkan tetap dapat menggunakan jalur tersebut selama mematuhi aturan keamanan.
Negara Asia Selatan lain seperti Bangladesh dan Sri Lanka juga disebut masih dapat melintas.
Kapal dari kedua negara tersebut dilaporkan diizinkan menggunakan jalur tersebut setelah melalui prosedur koordinasi yang ditetapkan.
Jalur Strategis Tetap Dibuka
Iran menegaskan Selat Hormuz tidak ditutup sepenuhnya meski konflik berlangsung.
Jalur tersebut tetap dibuka secara terbatas agar distribusi energi global tidak terhenti.
Sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati kawasan ini sehingga gangguan dapat berdampak besar terhadap ekonomi global.
Dengan memberikan akses kepada China, India, Pakistan, Turki, Malaysia, Irak, Bangladesh, dan Sri Lanka, Iran menjaga arus perdagangan tetap berjalan.
Namun, jalur tersebut berada di bawah pengawasan ketat selama situasi konflik masih berlangsung.
Namun kebijakan ini juga menegaskan bahwa jalur tersebut berada di bawah kontrol ketat Iran selama konflik berlangsung.
Negara yang tidak termasuk kategori “non-hostile” masih menghadapi pembatasan lebih ketat untuk melintas. (daf)





