MEGAPOLITIK.COM - Berita tentang tewasnya Ali Khamenei pada 28 Februari 2026 akibat serangan udara oleh pasukan Amerika Serikat dan Israel memicu reaksi sangat beragam di Iran.
Khamenei menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran sejak 1989 sampai wafatnya pada 2026, artinya ia memimpin sekitar 36–37 tahun.
Sebagian warga menyampaikan duka, terutama pendukung sistem dan komunitas religius yang melihat Khamenei sebagai pemimpin spiritual dan simbol revolusi.
Namun, beberapa warga di sejumlah wilayah juga bereaksi berbeda terhadap kabar tersebut.
Beberapa video yang beredar menunjukkan sorakan, musik, tarian, dan kembang api di kota-kota besar seperti Tehran dan Isfahan.
Bagi sebagian warga, peristiwa ini dipandang sebagai simbol berakhirnya era kepemimpinan yang mereka nilai represif.
Ekspresi seperti teriakan “kebebasan” juga muncul dalam rekaman yang beredar setelah kabar kematian itu menyebar.
Reaksi ini muncul bukan tanpa alasan, karena banyak warga merasa selama era Khamenei, kehidupan politik dan sosial mereka semakin tertekan, terutama setelah protes besar pada 2025–2026 yang menuntut reformasi dan kebebasan lebih luas.
1. Penguasa Sentral dan Otoriter
Khamenei menjadi Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran sejak 1989 setelah menggantikan pendiri negara, Ruhollah Khomeini, dan memegang kendali penuh atas semua cabang pemerintahan sampai wafatnya pada 2026.
Dalam perannya, ia memiliki kekuasaan eksekutif dan militer tertinggi serta berpengaruh atas legislatif, yudikatif, dan kebijakan luar negeri.
Perubahan paling fundamental adalah kekuatan absolut yang dia konsolidasikan di kantor pemimpin tertinggi, di mana keputusan besar politik, ekonomi, dan militer dijalankan berdasarkan otoritasnya sendiri, bukan lembaga demokratis independen.
2. Ekonomi dan Jaringan Finansial Besar
Lewat organisasi seperti Setad (Execution of Imam Khomeini’s Order) dan Astan Quds Razavi, pengaruh Khamenei merambah sektor ekonomi penting.
Lembaga‑lembaga ini tumbuh menjadi konglomerat kuat yang jauh dari pengawasan publik dan transparansi, sesuatu yang menimbulkan kritik tajam dari oposisi dan aktivis.
3. Represi dan Penindasan
Kepemimpinan Khamenei ditandai oleh beberapa gelombang besar protes massal termasuk puncaknya pada 2009, 2019, dan 2025–2026 yang sering kali dibalas dengan penggunaan kekuatan militer, penangkapan massal, dan kekerasan terhadap demonstran.
Banyak laporan independen menyebut ribuan orang tewas atau ditahan oleh aparat keamanan.
Penegakan aturan sosial yang ketat terhadap perempuan, termasuk hukum wajib hijab dan pembatasan kebebasan pribadi, kerap menjadi pemicu ketidakpuasan publik dalam negeri dan dikritik keras oleh kelompok hak asasi manusia internasional.
4. Kebijakan Luar Negeri Konfrontatif
Khamenei memperluas peran Iran di Timur Tengah melalui dukungan terhadap kelompok militan di negara tetangga, menegaskan strategi “kekuatan strategis” yang sering memperburuk hubungan dengan negara Barat dan tetangga regional.
Program nuklir dan rudal juga menjadi sumber sanksi internasional yang memberatkan ekonomi Iran selama bertahun‑tahun.
Kenapa Sebagian Warga Lega?
Bagi sebagian warga Iran yang sudah lama berharap akan akhir rezim otoriter, kabar kematian Khamenei dirasakan bukan sekadar berita politik tetapi simbol berakhirnya era represi.
Mereka melihatnya sebagai peluang perubahan, bangkitnya harapan untuk kebebasan politik, dan kesempatan mengakhiri kekangan sosial yang menjadi ciri pemerintahan clerical selama hampir 40 tahun.
Kesimpulan
Leganya sebagian warga Iran atas wafatnya Ali Khamenei muncul dari akumulasi ketidakpuasan terhadap kebijakan otoriter serta kondisi sosial-ekonomi yang dinilai mengekang kebebasan dan hak asasi manusia.
Meski demikian, sebagian warga Iran lainnya tetap mengungkapkan duka atas tewasnya pemimpin negara tersebut.





