Kamis, 2 April 2026

Kematian Khamenei Picu Reaksi Kontras Warga Iran, dari Duka hingga Sorak-sorai…

Perayaan atau duka cita?

Rabu, 4 Maret 2026 - 11:47

IRAN - Kematian Khamenei picu reaksi beragam warga Iran/ Foto: IST

MEGAPOLITIK.COM - Kematian Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, telah memicu reaksi warga yang sangat beragam di dalam negeri serta di kalangan diaspora Iran di seluruh dunia.

Peristiwa ini, yang terjadi setelah serangan udara bersama oleh pasukan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari 2026, telah membuka pemisahan tajam dalam pandangan masyarakat Iran, dengan sebagian warga merasakan kebahagiaan dan yang lain merasakan duka mendalam. 

Pemimpin tertinggi negara Iran yang telah memimpin selama 36 tahun itu meninggal dunia akibat serangan yang menghancurkan kompleksnya di Teheran. 

Pengumuman kematian Khamenei disiarkan melalui televisi negara dengan suasana emosional yang kuat, termasuk suara penyiar yang menangis saat menyampaikan berita itu kepada rakyat Iran

Tanggapan Duka: Kesetiaan dan Kesedihan

Di kota‑kota besar seperti Teheran, Mashhad, dan Shiraz, banyak warga mengungkapkan kesedihan atas kehilangan tokoh yang mereka anggap sebagai pemimpin spiritual dan simbol stabilitas negara. 

Ribuan orang turun ke jalan, mengenakan pakaian hitam, membawa foto Khamenei, dan menyuarakan yel‑yel dukungan serta kesetiaan kepada ajaran dan kepemimpinannya. 

Pada saat yang sama, berbagai tokoh religius dan politis di Iran dan negara tetangga seperti Irak menyatakan belasungkawa dan menyerukan persatuan nasional di tengah masa sulit ini. 

“Tidak bisa merasa bahagia atas kematian seorang pemimpin negara, karena tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya”, ucap seorang guru sekolah dasar dari Shiraz, menampilkan kekhawatiran tentang masa depan negara yang sedang menghadapi ketidakpastian besar. 

Reaksi Bahagia: Harapan dan Pelepasan

Di sisi lain, reaksi warga yang sangat berbeda muncul di berbagai penjuru Iran dan komunitas Iran di luar negeri. 

Video dan laporan menunjukkan bahwa sebagian warga di kota seperti Karaj, Ilam, dan Izeh merayakan kematian Khamenei, meneriakkan sorak sorai, menari di jalan, dan bahkan meruntuhkan patung‑patung yang terkait dengan simbol rezim lama. 

Seorang perempuan muda di Isfahan mengungkapkan bahwa ketika dia mendengar kabar tersebut, ia menangis campur tawa karena merasa ini bisa menjadi awal dari berakhirnya rezim yang telah menekan rakyat selama puluhan tahun.  

Bagi mereka, kematian itu tidak semata tentang kematian seorang lelaki, tetapi juga simbol berakhirnya periode yang penuh dengan represi, penindasan terhadap protes sosial, dan pembatasan hak‑hak individu. 

Kelompok Iran di diaspora, misalnya di Korea, juga terlihat berkumpul di Seoul untuk merayakan berita tersebut, menyatakan bahwa mereka merasa lega dan penuh harapan akan perubahan yang bisa membawa mereka pulang ke tanah air suatu hari nanti. 

Ketegangan dan Ketidakpastian

Namun, kebahagiaan dan duka tidak lepas dari nuansa ketidakpastian dan kekhawatiran akan keselamatan warga Iran.

Banyak warga yang khawatir bahwa reaksi eksternal terhadap peristiwa ini termasuk ancaman balasan militer, perang yang lebih luas, dan dampak terhadap kehidupan sehari‑hari rakyat bisa membawa penderitaan baru. 

Ini tercermin dari laporan beberapa warga yang menyampaikan kekhawatiran tentang apa yang akan terjadi setelah rezim yang kuat lenyap, dan apakah kekosongan kekuasaan akan memicu kekacauan atau konflik internal. (daf)

Populer
recommended
Jangan Lewatkan
Our Networks
Member of mediaemas.id
seedbacklink