Kamis, 2 April 2026

Pernah Dibongkar Hugo Chávez, Ini Alasan Amerika Serikat Incar Venezuela

Minggu, 4 Januari 2026 - 13:20

TANGKAPAN LAYAR - Mantan Presiden Venezuela Hugo Chaves dalam salah satu wawancara/ IG @observerdiplomatmag

MEGAPOLITIK.COM -  Ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela kembali menjadi sorotan dunia.

Namun jauh sebelum konflik dan tekanan politik saat ini memuncak, Presiden Venezuela Hugo Chávez pernah secara terbuka membongkar alasan utama mengapa Amerika Serikat terus membidik negaranya.

Dalam sebuah wawancara pada 2009 dengan jurnalis Kolombia Vicky Dávila, Chávez menegaskan bahwa Venezuela bukan sekadar sasaran politik, melainkan target strategis Washington karena kekayaan sumber daya alamnya, terutama minyak.

Minyak Jadi Alasan Utama

Chávez menyebut bahwa cadangan minyak Venezuela yang sangat besar menjadi faktor utama di balik permusuhan Amerika Serikat. Menurutnya, kepentingan energi global membuat Washington tidak pernah benar-benar menerima Venezuela sebagai negara yang berdaulat penuh.

Amerika Serikat tidak pernah peduli pada demokrasi kami. Mereka peduli pada minyak kami, pada sumber daya kami,” kata Chávez dalam wawancara tersebut.

Ia menilai, setiap kali Venezuela berupaya mengelola kekayaannya secara mandiri dan berpihak pada rakyat, tekanan dari Amerika Serikat justru semakin menguat.

Tuduhan Sejarah Intervensi di Amerika Latin

Dalam wawancara itu, Chávez juga menyinggung rekam jejak panjang Amerika Serikat dalam mencampuri urusan negara-negara Amerika Latin.

Ia menyebut Washington memiliki sejarah mendukung kudeta, penggulingan pemerintahan sah, hingga pembunuhan politik di kawasan tersebut.

“Sejarah Amerika Latin penuh dengan intervensi Amerika Serikat. Kudeta, pembunuhan, dan penghancuran demokrasi bukan hal baru,” ujar Chávez.

Menurutnya, Venezuela hanya menjadi bagian dari pola lama kebijakan luar negeri AS yang menolak negara-negara berkembang bersikap independen.

Tantang Narasi Terorisme Amerika Serikat

Chávez juga secara terbuka menantang narasi Amerika Serikat soal terorisme global.

Ia mempertanyakan legitimasi moral Washington yang kerap menuding negara lain, sementara memiliki catatan panjang kekerasan dan intervensi militer.

“Mereka berbicara tentang terorisme, tapi dunia tahu berapa banyak negara yang telah hancur akibat kebijakan Amerika Serikat,” tegasnya.

Pernyataan ini disampaikan Chávez sebagai kritik langsung terhadap standar ganda yang ia nilai kerap digunakan AS dalam hubungan internasional.

Relevansi dengan Situasi Venezuela Saat Ini

Pandangan Hugo Chávez tersebut dinilai masih relevan hingga kini, terutama di tengah tekanan politik, ekonomi, dan diplomatik Amerika Serikat terhadap pemerintahan Presiden Nicolás Maduro, penerus langsung Chávez.

Sejumlah analis menilai, konflik AS–Venezuela tidak bisa dilepaskan dari warisan Revolusi Bolivarian, yang sejak awal menempatkan kedaulatan sumber daya alam sebagai pilar utama kebijakan negara.

Dengan meningkatnya kembali eskalasi dan klaim-klaim terbaru terkait Venezuela, peringatan Chávez lebih dari satu dekade lalu kini kembali digaungkan: Venezuela bukan sekadar konflik politik, melainkan medan perebutan kepentingan global.

Siapa Hugo Chávez? 

Hugo Chávez menjabat sebagai Presiden Venezuela sejak 1999 hingga wafat pada 2013, sekaligus menjadi tokoh utama Revolusi Bolivarian.

Setelah Chávez meninggal dunia pada Maret 2013, Nicolás Maduro yang saat itu menjabat Wakil Presiden diangkat sebagai presiden sementara.

Maduro kemudian memenangkan pemilu dan resmi terpilih sebagai Presiden Venezuela.

Secara politik, Maduro dikenal sebagai penerus langsung Chávez yang melanjutkan ideologi Chavismo dan agenda Revolusi Bolivarian.

 

Cadangan Minyak Venezuela 

Berdasarkan data lembaga energi internasional dan OPEC, cadangan minyak terbukti Venezuela mencapai sekitar 303 miliar barel.

Angka ini menjadikan Venezuela pemilik cadangan minyak terbesar di dunia, mengungguli Arab Saudi, Iran, maupun Kanada.

Sebagian besar cadangan tersebut berada di Sabuk Orinoco, wilayah dengan karakter minyak ekstra berat (extra-heavy crude) yang membutuhkan teknologi tinggi dan biaya besar untuk diproduksi secara optimal.

Produksi Masih Terbatas, Tapi Mulai Merangkak Naik

Meski kaya cadangan, produksi minyak Venezuela belum sepenuhnya pulih. Data terbaru hingga akhir 2025 menunjukkan produksi berada di kisaran 900 ribu hingga 1,1 juta barel per hari.

Angka ini memang mengalami peningkatan dibanding tahun-tahun sebelumnya, namun masih jauh di bawah masa kejayaan Venezuela, ketika produksi bisa melampaui 3 juta barel per hari. Penurunan tajam ini dipicu oleh sanksi Amerika Serikat, minimnya investasi, serta infrastruktur industri minyak yang menua.

Ekspor Tembus 1 Juta Barel per Hari

Dari sisi ekspor, Venezuela mencatat perkembangan signifikan.

Pada paruh akhir 2025, ekspor minyak Venezuela sempat menembus lebih dari 1 juta barel per hari, level tertinggi sejak 2020.

Sebagian besar ekspor tersebut dialirkan ke China dan negara-negara Asia, dengan bantuan bahan pengencer (diluent) dari mitra asing untuk memungkinkan minyak berat Venezuela dapat diproses dan dikirim ke pasar internasional. (tam)

 

Populer
recommended
Jangan Lewatkan
Our Networks
Member of mediaemas.id
seedbacklink