MEGAPOLITIK.COM - Wakil Ketua DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal, menjadi sorotan setelah menyatakan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak membutuhkan peran ahli gizi dan menyebut bahwa tak suka anak muda yang bersikap arogan.
Ucapan tersebut Cucun Ahmad Syamsurijal lontarkan saat berbicara dalam Rapat Konsolidasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Tak butuh waktu lama, video rekaman Cucun Ahmad Syamsurijal menyebar luas di media sosial dan memicu gelombang kritik dari warganet.
Awal Mula Kejadian
Situasi bermula ketika seorang peserta forum menyampaikan solusi terkait kesulitan Badan Gizi Nasional (BGN) dalam mencari tenaga ahli gizi, persoalan yang sebelumnya juga diungkapkan Kepala BGN, Dadan Hindayana, dalam rapat bersama Komisi IX DPR pada Rabu (12/11/2025).
Peserta tersebut meminta agar bila SPPG nantinya merekrut pengawas tanpa latar belakang pendidikan gizi, sebaiknya mereka tidak menggunakan label “ahli gizi”.
“Jika tetap ingin merekrut dari non-gizi, mohon tidak memakai embel-embel ahli gizi,” ujarnya, Senin (17/11/2025).
Ia mengusulkan agar posisi tersebut cukup diberi jabatan pengawas produksi dan kualitas (QA/QC).
Peserta yang sama juga menyarankan agar BGN berkolaborasi dengan PERSAGI untuk memenuhi kebutuhan ahli gizi di tiap daerah, sekaligus mengingatkan risiko gizi yang tidak tepat bila tenaga yang dipilih bukan berlatar ilmu gizi.
“Solusi yang lain adalah BGN boleh berkolaborasi dengan organisasi profesi. Kita ini punya rumah, kita punya rumah yang sangat besar bernama PERSAGI, yaitu Persatuan Ahli Gizi Indonesia. Rumah yang sangat luas, rumah yang sangat besar, menaungi seluruh ahli gizi di Indonesia,” tutur peserta tersebut.
“Kalau misalkan memang BGN merekrut nongizi, apakah MBG ini tetap menjadi bergizi? Karena kita mengingat bahwa kegiatan ini bukan hanya memberi makanan, tapi di dalamnya juga ada edukasi dan juga ada surveillance gizi,” sambungnya.
Selain Persagi, ia turut menyebut HAKLI (Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia) sebagai organisasi profesi yang bisa diajak bekerja sama terkait dengan kebutuhan sanitasi.
“Saya juga ingin memberi saran terkait nanti misalkan Bapak/Ibu menambah profesi ahli sanitasi, tolong merangkul dan berkolaborasi dengan profesi HAKLI. Jadi, tolong jangan diacak-acak profesi kesehatan ini, gitu,” ucapnya lebih lanjut.
Cucun Memotong Pembicaraan
Belum selesai peserta tersebut menjelaskan, Cucun tiba-tiba menyela, menganggap penjelasan itu terlalu panjang.
Perdebatan kecil pun terjadi.
“Apakah boleh memberi satu solusi lagi?” tanya peserta itu.
“Itukah berkait profesi kamu, biar nggak panjang. Kamu bicara terlalu panjang. Yang lain kasihan. Cukup ya,” jawab Cucun memotong.
Meski peserta itu kembali meminta izin berbicara, Cucun tetap menolak dan memintanya duduk.
Peserta Disebut Arogan
Alih-alih menanggapi substansi masalah, Cucun justru menuding peserta itu bersikap arogan.
Ia kemudian menegaskan bahwa semua keputusan terkait ada atau tidaknya ahli gizi dalam program MBG berada di tangannya sebagai Wakil Ketua DPR.
“Saya nggak suka anak-anak muda arogan kayak ini. Mentang-mentang kalian sekarang dibutuhkan negara, kalian bicara undang-undang. Membuat kebijakan itu (tugas) saya,” tegasnya.
Cucun bahkan menyatakan akan mengubah istilah “ahli gizi” dalam program MBG menjadi “tenaga yang menangani gizi” sehingga BGN tidak perlu lagi merekrut tenaga profesi gizi.
“Cocok nggak? Nanti saya akan selesaikan di DPR,” katanya.
Di hadapan peserta Rapat Konsolidasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Cucun menyebut bahwa para ahli gizi tidak boleh bersikap arogan dan merasa paling memahami regulasi.
Ia kemudian mencontohkan bahwa untuk menjadi camat tidak harus dari STPDN, namun cukup memiliki pemahaman tentang pemerintahan.
Analogi itu ia gunakan untuk menekankan bahwa program MBG pun tidak harus dijalankan oleh tenaga kesehatan berlatar belakang gizi.
Ahli Gizi Disebut Bisa Digantikan Lulusan SMA
Cucun melanjutkan dengan pernyataan yang memicu lebih banyak kritik dari publik.
“Kalau kalian ego seperti ini, ini lagi membangun bangsa, Bapak Ibu sekalian. Republik ini bukan milik ahli gizi,” katanya.
“Ketika sudah rapat di DPR, saya ketok: kita tidak perlu ahli gizi, tidak perlu PERSAGI. Yang dibutuhkan hanya tenaga yang mengawasi gizi. Tidak perlu ahli gizi. Selesai kalian,” ujar Cucun.
Tak berhenti sampai di situ, Cucun juga menegaskan bahwa ia tidak akan toleran terhadap sikap yang menurutnya “sombong”.
“Jangan bicara arogansi dengan saya," ujar Cucun.
"Semua keputusan di republik ini, saya tinggal pegang palu, selesai. Saya tidak mau dengar ada orang sombong hanya karena merasa ahli gizi,” tegasnya.
Pernyataan tersebut memicu perdebatan luas, terutama karena dianggap meremehkan profesi ahli gizi serta mengabaikan standar kompetensi kesehatan dalam program nasional.
Video itu pun dibanjiri komentar warganet dan makin memperkuat gelombang kritik terhadap sikap Cucun dalam forum tersebut.
Dalam pernyataannya, Cucun menambahkan bahwa posisi ahli gizi dapat digantikan oleh lulusan SMA yang dilatih tiga bulan terkait gizi dan diberikan sertifikat dari BSNP.
"Nanti tinggal ibu Kadinkes melatih orang. Bila perlu di sini, di kabupaten itu, punya anak-anak yang fresh graduate, anak SMA cerdas-cerdas, dilatih tiga bulan, kasih sertifikasi, saya siapkan BNSP. Tidak perlu seperti kalian (ahli gizi) yang sombong seperti ini. Betul nggak?" papar dia.
(apr)





