MEGAPOLITIK.COM - Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan komitmennya untuk terus memblokir Selat Hormuz dan menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah Teluk dalam komentar publik pertamanya sejak pengangkatannya.
Dalam pernyataan tertulis yang diterbitkan media resmi Iran dan dibagikan melalui kanal daring resmi kepemimpinan almarhum ayahnya, Khamenei memberi isyarat bahwa Iran siap memperluas konflik jika dibutuhkan.
Ia menekankan bahwa leverage pemblokiran Selat Hormuz akan terus digunakan sebagai alat strategis.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi perdagangan energi dunia, di mana sekitar seperlima minyak dan gas alam cair global mengalir.
Gangguan yang dilakukan Iran terhadap kapal-kapal di wilayah ini telah membuat rute hampir tidak dapat dilalui, memicu lonjakan harga minyak dan gas, serta memicu apa yang Badan Energi Internasional sebut sebagai “gangguan pasokan terbesar dalam sejarah.”
Komitmen Khamenei dalam Menjaga Keamanan Wilayah
Mojtaba Khamenei muncul untuk pertama kali sejak awal perang dalam bentuk pernyataan tertulis, setelah ia ditunjuk sebagai kepala negara pada (09/03/2026).
Ayahnya, mantan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan AS-Israel bersama beberapa anggota keluarga.
Kehadiran publik Mojtaba Khamenei yang minim memicu spekulasi tentang kondisi kesehatannya, termasuk laporan belum terkonfirmasi bahwa ia mengalami cedera serius hingga kemungkinan amputasi kaki.
Dalam pernyataan itu, Mojtaba Khamenei menegaskan tidak ada perubahan strategi, Selat Hormuz akan tetap menjadi jalur vital yang dijaga ketat.
“Studi telah dilakukan untuk membuka front baru di mana musuh memiliki sedikit pengalaman atau rentan, yang dapat diaktifkan jika perang berlanjut dan dianggap perlu,” ujar Mojtaba Khamenei.
Pernyataan ini menegaskan kesiapan Iran untuk menghadapi eskalasi lebih lanjut dengan Amerika Serikat dan Israel jika konflik berlanjut.
Ancaman Balasan dan Strategi Militer Iran
Selain memfokuskan diri pada Selat Hormuz, Khamenei bersumpah akan menuntut balas atas kematian ayahnya dan kerabat lain, termasuk lebih dari 100 anak sekolah yang tewas dalam dugaan serangan udara Amerika Serikat di sekolah dasar Iran selatan.
Mojtaba Khamenei menekankan bahwa Iran akan mengejar kompensasi perang dan tidak segan mengambil aset pihak yang dianggap bertanggung jawab atau menghancurkannya jika diperlukan.
Pemimpin baru ini juga menegaskan rencana untuk terus menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, menyebutnya sebagai satu-satunya pilihan yang tersisa.
Sejak perang dimulai, rudal dan drone Iran telah menargetkan infrastruktur sipil dan energi di wilayah Teluk dan sekitarnya, memicu kecaman dari negara-negara tetangga. (daf)





