MEGAPOLITIK.COM - Nama Teuku Markam mungkin jarang disebut dalam buku sejarah arus utama.
Namun, jejak pengusaha asal Aceh ini melekat kuat dalam simbol kebanggaan nasional Indonesia: emas di puncak Monumen Nasional (Monas).
Berdasarkan catatan sejarah, dari total 38 kilogram emas yang menghiasi puncak Monas, 28 kilogram di antaranya merupakan sumbangan Teuku Markam, seorang filantropi dan pengusaha besar pada era pemerintahan Presiden Soekarno.
Pengusaha Aceh di Lingkar Kekuasaan Orde Lama
Teuku Markam dikenal sebagai salah satu konglomerat pribumi paling berpengaruh pada masa Orde Lama.
Ia memiliki jaringan bisnis luas, mulai dari kepemilikan kapal dan galangan (dok) kapal di Jakarta, Medan, Makassar, hingga Palembang, hingga aktivitas ekspor-impor strategis, termasuk impor mobil Toyota Hardtop dari Jepang, plat baja, besi beton, dan persenjataan untuk kebutuhan negara.
Dalam catatan sejarah, kedekatan Teuku Markam dengan Presiden Soekarno dan elite pemerintahan membuatnya kerap disebut sebagai bagian dari “Kabinet Bayangan” Orde Lama, sebuah istilah bagi tokoh non-resmi yang berpengaruh besar dalam kebijakan ekonomi nasional.
Dari Prajurit hingga Pengusaha Negara
Lahir sekitar tahun 1925, Teuku Markam berasal dari keluarga uleebalang (bangsawan) Aceh.
Meski hanya mengenyam pendidikan formal hingga kelas 4 Sekolah Rakyat, ia mengikuti pendidikan militer dan bergabung dengan Tentara Rakyat Indonesia (TRI).
Ia pernah terlibat dalam pertempuran Medan Area, menjadi penghubung antar-pasukan, hingga dipercaya menjadi ajudan Jenderal Gatot Soebroto, yang kemudian memperkenalkannya kepada Presiden Soekarno.
Pada 1957, Teuku Markam mendirikan PT Karkam, perusahaan yang dipercaya mengelola pampasan perang dan menjadi salah satu sumber pendanaan negara pada masa itu.
Nasib Berubah di Era Orde Baru
Perubahan politik pasca-1965 menjadi titik balik tragis bagi Teuku Markam.
Ia dituduh terlibat G30S/PKI, dipenjara tanpa proses pengadilan sejak 1966, dan seluruh asetnya diambil alih negara.
Teuku Markam berpindah dari satu penjara ke penjara lain, sebelum akhirnya dibebaskan pada 1974 tanpa rehabilitasi nama maupun pengembalian aset. Ia wafat pada 1985 dalam kondisi sakit, tanpa pengakuan resmi atas jasa-jasanya bagi negara.
Jejak Sejarah yang Terlupakan
Kontribusi Teuku Markam tidak hanya pada emas Monas, tetapi juga pada pembangunan infrastruktur Aceh dan Jawa Barat melalui proyek-proyek yang didanai World Bank (Bank Dunia), termasuk jaringan jalan strategis yang masih digunakan hingga kini.
Kisah Teuku Markam menjadi potret bagaimana perubahan rezim politik dapat menghapus peran tokoh besar dari ingatan kolektif bangsa, meski jasanya tertanam dalam simbol negara.
Sumber: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata
Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh, Tahun 2011
(tam)





