MEGAPOLITIK.COM - Kalimantan Timur kembali dilanda bencana hidrometeorologi, dengan banjir menyerang beberapa daerah di Berau dan Kutai Timur.
Bagian pembuka laporan ini menegaskan situasi darurat, di mana intensitas hujan yang sangat tinggi serta kondisi sungai yang rentan menjadi pemicu utama terjadinya banjir bandang.
Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan air dari wilayah hulu hingga hilir masih belum berjalan maksimal.
Pemerintah daerah pun diminta memperkuat upaya mitigasi agar bencana serupa tidak terus berulang.
DPRD Kaltim menekankan pentingnya respons cepat yang dibarengi dengan strategi jangka panjang.
Di Berau, banjir merendam sejumlah kampung di Kecamatan Segah, Kelay, dan Sambaliung.
Kepala BPBD Berau, Novian Hidayat, menjelaskan kondisi terkini di lapangan.
“Ini banjir bandang akibat curah hujan sangat tinggi,” katanya.
Genangan air juga menutup akses menuju Kampung Merasa, Long Ayan, Long Ayap, dan Tepan Buah.
Di Sambaliung, banjir masuk ke wilayah Long Lanuk, Inaran, Bena Baru, Tumbit Melayu, Teluk Bayur, Tumbit Dayak, dan Labanan Makarti.
Petugas BPBD disiagakan di beberapa titik untuk memonitor perubahan ketinggian air dan membantu warga terdampak.
Novian menambahkan bahwa arus banjir membawa sampah dari kawasan hulu sehingga memperburuk kondisi di permukiman.
BMKG Berau juga menyebut faktor pasang air laut sebagai penyebab lambatnya surut genangan.
“Air dari hulu tertahan menuju laut, jadi kewaspadaan harus tetap dijaga,” ujar Ade Heriyadi. Di sejumlah kampung, warga mulai mengamankan barang penting sembari menunggu air kembali turun.
Sementara itu, di Kutai Timur, banjir merendam wilayah Karangan, Telen, Muara Wahau, dan Kongbeng.
Polres Kutim membentuk Satgas dan Posko Terpadu untuk membantu evakuasi kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan lansia. Kapolres Kutim, AKBP Fauzan Arianto, menegaskan kesiapan jajarannya.
“Kami berkomitmen membantu meminimalkan dampak banjir. Personel siap memberikan pelayanan terbaik,” ujarnya.
BPBD Kutim melaporkan tinggi air berkisar antara 30 hingga 80 sentimeter di sejumlah lokasi.
Kepala BPBD Kutim, Sulastin, menyebut kondisi tersebut masih sangat dipengaruhi curah hujan dan dapat berubah sewaktu-waktu.
BMKG juga mengingatkan adanya potensi cuaca ekstrem hingga Juni 2026, yang dapat meningkatkan volume air di wilayah terdampak.
Melihat situasi tersebut, DPRD Kaltim kembali mendorong penguatan mitigasi daerah, termasuk pengelolaan sungai, kesiapan jalur evakuasi, serta penataan kawasan rawan bencana agar penanganan tidak hanya bersifat reaktif. (adv)





