Pertama-tama, Qin Shi Huang memimpin wilayah Qin untuk menaklukkan enam negara besar Han, Zhao, Wei, Chu, Yan, dan Qi yang selama berabad-abad saling bersaing di era Negara Berperang (Warring States).
Setelah kemenangan itu pada tahun 221 SM, Qin Shi Huang mengumumkan dirinya sebagai kaisar (huangdi) dan mendirikan dinasti Qin.
Sebagai kaisar pertama persatuan Tiongkok klasik, Qin Shi Huang melakukan reformasi besar.
Qin Shi Huang menstandarisasi aksara, sistem ukuran dan timbangan, mata uang, serta menyusun sistem administratif prefektur-kabupaten guna menggantikan sistem lama yang berbasis negara-bagian.
Pemerintahan Sentralisasi dan Proyek Monumental
Dalam pemerintahan, ia memperkuat kekuasaan pusat dengan menghapus otonomi negara-bagian dan menggantinya dengan pemerintahan daerah langsung di bawah Kaisar.
Qin Shi Huang juga mensistematisasi hukum, militer, teknik, dan administrasi sehingga wilayah kekuasaannya menjadi satu kesatuan yang relatif terpusat.
Yang artinya seluruh kendali ada di bawah pusat.
Secara monumental, Qin Shi Huang memerintahkan pembangunan mega proyek termasuk penggabungan dan perpanjangan tembok-tahanan yang kemudian dikenal sebagai bagian dari Great Wall of China guna melawan suku-suku di utara.
Di sisi lain, Qin Shi Huang mulai sejak awal masa pemerintahannya memerintahkan pembangunan makam yang sangat besar, yaitu Mausoleum of the First Qin Emperor, yang kemudian terkenal dengan ribuan patung prajurit terakota yang ditemukannya.
Obsesi dengan Keabadian dan Awal Penurunan
Meski ia sukses menyatukan negara, Qin Shi Huang juga dikenal dengan sisi pemerintahannya yang keras dan tiranik.
Qin Shi Huang memerintahkan pembakaran buku‑buku yang dianggap bisa mengancam ideologi pemerintahannya pada tahun 213 SM dan menindak keras kaum sarjana yang menentangnya.
Kekuasaan besar Qin Shi Huang juga dibarengi dengan obsesi pribadi yang kuat ketakutan terhadap kematian dan keinginan mendapatkan keabadian.
Namun, sementara pembangunan kekaisaran berjalan cepat, aspek‑lembaga masyarakatnya mulai menampakkan keretakan.
Pemerintahannya yang keras, hukuman yang brutal, dan pembatasan terhadap pemikiran Konfusianisme memunculkan ketidakpuasan.





