MEGAPOLITIK.COM - Mengulas profil Gus Yahya atau KH Yahya Cholil Staquf di tengah isu pemakzulannya serta mengenal lima ketua umum PBNU yang menjabat sebelum Gus Yahya.
Dinamika internal Nahdlatul Ulama (NU) memanas setelah beredarnya risalah Rapat Harian Syuriyah PBNU pada 20 November 2025.
Dalam dokumen tersebut, sejumlah pengurus meminta Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya, untuk mundur dalam waktu tiga hari atau menghadapi pemecatan.
Isu ini tak main-main karena menyentuh integritas kepemimpinan, tata kelola organisasi, dan nilai dasar NU.
Menanggapi desakan tersebut, Gus Yahya menolak keras.
Gus Yahya menyatakan bahwa keputusan rapat Syuriyah tersebut tidak sah secara organisasi karena bertentangan dengan AD/ART PBNU.
Menurut Gus Yahya, forum harian Syuriyah tidak memiliki kewenangan untuk memberhentikan ketua umum.
Selain itu, Gus Yahya mengaku belum pernah menerima surat resmi terkait risalah yang beredar.
Sebagai respon atas ketegangan ini, sekitar 50 kiai sepuh PBNU melakukan silaturahim ulama di Jakarta.
Dalam pertemuan tersebut, mereka menyepakati bahwa tidak akan ada pemakzulan terhadap Gus Yahya dan menegaskan kepengurusan PBNU harus berjalan sampai akhir masa jabatan, yakni hingga muktamar berikutnya.
Katib Aam PBNU, Ahmad Said Asrori, menegaskan bahwa penggantian pimpinan hanya bisa dilakukan melalui Muktamar NU sesuai mekanisme AD/ART.
Terlepas dari dinamika itu, berikut bagian yang memuat profil Gus Yahya.
Profil Gus Yahya
KH Yahya Cholil Staquf lahir pada 16 Februari 1966 di Rembang, Jawa Tengah.
Gus Yahya tumbuh dalam tradisi pesantren NU ayahnya adalah KH Muhammad Cholil Bisri dan keluarganya sangat berakar di dunia keulamaan.
Pendidikan Gus Yahya diawali di pondok pesantren Raudlatut Thalibin di Rembang, kemudian melanjutkan ke pesantren Al‑Munawwir Krapyak di Yogyakarta di bawah KH Ali Maksum.
Saat kuliah, Gus Yahya belajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) dan aktif di organisasi mahasiswa HMI FISIPOL UGM pada periode 1986–1987.





