Wilayah Amerika Latin dan Karibia memegang 24 persen (turun 1 poin), sedangkan Amerika Utara kini hanya 10 persen (turun 2 poin).
Dengan tren ini, bisa disimpulkan bahwa masa depan Kekristenan ada di selatan dunia — khususnya di benua Afrika.
Faktor Sosial dan Kultural di Balik Pergeseran
Pew Research Center menyoroti sejumlah faktor yang mendorong pergeseran ini.
Di Eropa dan Amerika Utara, sekularisasi yang semakin kuat, menurunnya angka kelahiran, serta meningkatnya jumlah orang yang mengaku “tidak beragama” menjadi penyebab utama penurunan jumlah umat Kristen.
Sebaliknya, di Afrika, pertumbuhan penduduk yang cepat dan peran besar agama dalam kehidupan sosial dan budaya membuat jumlah umat Kristen terus meningkat pesat.
Selain itu, gereja-gereja di Afrika juga berkembang dengan dinamis — bukan hanya melalui misi tradisional, tetapi juga melalui gerakan keagamaan lokal yang lebih kontekstual dan berakar pada budaya setempat.
Pergeseran ini menggambarkan dunia yang semakin beragam secara keagamaan dan menunjukkan bahwa pusat-pusat spiritual dunia kini berpindah dari utara ke selatan.
Meski umat Kristen masih menjadi kelompok agama terbesar di dunia, arah demografis menunjukkan tren yang semakin jelas: agama-agama non-Kristen, termasuk Islam, tumbuh jauh lebih cepat.
Jika tren ini berlanjut, menurut Pew Research Center, abad ke-21 bisa menjadi era di mana keseimbangan keagamaan dunia benar-benar berubah — baik secara jumlah maupun pengaruh sosial politiknya. (tam/art)
Diolah oleh: Megapolitik Research Desk
Sumber: Pew Research Center, How the Global Religious Landscape Changed from 2010 to 2020 (2025)





