MEGAPOLITIK.COM - Presiden Rusia Vladimir Putin sampai sejauh ini memilih tidak bereaksi secara terbuka ketika Presiden Venezuela Nicolás Maduro ditangkap oleh pasukan Delta Force AS pada Sabtu lalu.
Maduro ditarik paksa dari kamar tidurnya dan kini menunggu persidangan di New York atas tuduhan perdagangan narkotika internasional.
Kejadian ini menimbulkan kegemparan global karena melibatkan intervensi militer lintas batas dan menyoroti batas-batas aliansi Rusia-Latin Amerika.
Sebelum penculikan Maduro, pasukan AS menyerang sistem pertahanan udara Buk-2MA dan radar yang dipasok Rusia, yang dipasang di pelabuhan dan bandara Venezuela sebagai bagian dari aliansi strategis Rusia-Venezuela.
Meski begitu, perjanjian pertahanan antara Moskow dan Caracas tidak mencakup bantuan militer langsung jika terjadi serangan asing.
Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut penangkapan Maduro sebagai “tindakan agresi bersenjata yang tidak dapat diterima,” namun Putin tidak mengeluarkan komentar resmi atau tindakan militer.
Para pengamat politik internasional melihat sikap Putin sebagai strategi berhati-hati, yang memadukan pertimbangan politik, keamanan pribadi, dan geopolitik global.
Kerusakan Reputasi vs Keuntungan Strategis
Dilansir dari Al Jazeeras, menurut beberapa pengamat, Putin menghadapi dilema ganda.
Secara reputasi, kepercayaan publik dan prestise Putin di Amerika Latin terpukul karena Maduro adalah sekutu setia Rusia.
Namun secara strategi jangka panjang, Moskow tetap mendapat keuntungan karena AS menegaskan prioritasnya dalam tatanan dunia baru, termasuk kebebasan Rusia bergerak di Ukraina, bekas wilayah Uni Soviet, dan Asia Tengah yang kaya energi.
“Prestise Putin memang terpukul karena Maduro adalah sekutu paling setia di Amerika Latin. Tapi yang lebih penting bagi Putin adalah bagaimana tindakan AS menciptakan tatanan dunia baru yang menekankan kekuatan, bukan hukum internasional,” kata Alisher Ilkhamov, kepala think tank Central Asia Due Diligence di London.
Tatanan dunia baru ini, menurut pengamat, memprioritaskan kekuatan dan kepentingan strategis, bukan kedaulatan negara.
Fenomena ini mirip dengan ketidakaktifan Rusia ketika al-Assad panik melarikan diri ke Moskow saat oposisi mengambil alih Suriah pada 2024.
Diskusi “Spheres of Interest” dan Aliansi Rusia-AS
Beberapa teori menyebut bahwa Trump dan Putin sudah melepaskan Maduro sejak KTT Anchorage, Alaska, Agustus lalu.
Menurut Nikolay Mitrokhin, peneliti Rusia dari Universitas Bremen, pembicaraan itu kemungkinan menyangkut pembatasan lingkup kepentingan global, termasuk Ukraina dan Greenland.
Kesepakatan ini bisa termasuk konsesi Trump terhadap Rusia di Ukraina demi pengembangan hidrokarbon di wilayah Arktik pasca perang, sementara AS menguasai Greenland.
Setelah ladang minyak Rusia habis, perusahaan AS juga diproyeksikan berperan dalam pengembangan Bazhenovska Svita, deposit minyak serpih terbesar di dunia di Siberia Barat, mengamankan pasokan energi dan membatasi pengaruh China.
Keamanan Pribadi Putin dan Risiko Internal
Selain pertimbangan geopolitik, Putin juga dinilai lebih memperhatikan keamanan pribadinya.
Ia dikenal paranoid terhadap kebocoran informasi dan pengkhianatan internal.
Penangkapan Maduro mengingatkan Putin bahwa ada risiko informasi disalurkan ke pihak asing, sehingga fokus utamanya kini adalah penguatan keamanan diri dan lingkaran internal Kremlin.
Analisis Galiya Ibragimova dari Carnegie Endowment menyebut bahwa pengalaman Maduro bisa memicu Putin mempertimbangkan langkah ekstrem, bahkan kemungkinan penculikan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy sebagai tindakan balasan atau pencegahan strategis.
Hubungan Putin-Maduro dan Sejarah Aliansi
Sejak awal kepresidenan Maduro pada 2013, hubungannya dengan Putin sangat dekat.
Rusia memasok senjata berat, jet tempur, misil, dan membuka pabrik AK-47 di Venezuela.
Rusia juga membantu pengolahan minyak berat, meski teknologi yang usang gagal mencegah penurunan produksi minyak Venezuela, hiperinflasi, dan migrasi pakar minyak.
Setiap kunjungan Maduro ke Moskow disambut dengan karpet merah dan retorika “persahabatan abadi”.
Bahkan Oktober lalu, Maduro mengirim permintaan bantuan misil, radar, jet tempur, dan rencana pembiayaan kepada Moskow, meski respons Rusia tidak jelas.
Srategi Putin di Tengah Geopolitik Baru
Meskipun kehilangan sekutu setia di Amerika Latin, Putin tetap menekankan kepentingan strategis jangka panjang Rusia.
Sikap diamnya menunjukkan bagaimana Moskow menyeimbangkan kerusakan reputasi, prioritas geopolitik, dan keamanan internal, di tengah tekanan AS dan tatanan dunia baru yang berbasis kekuatan.
Pengamat menilai, kejadian ini adalah peta geopolitik baru: menekankan kekuatan militer, kendali energi global, dan aliansi strategis yang fleksibel bagi Rusia, meski harus menanggung risiko diplomatik dan reputasi. (tam)





