MEGAPOLITIK.COM - Wacana Amerika Serikat ingin menguasai Greenland kembali mencuat setelah Donald Trump, Presiden AS menjabat saat ini, secara terbuka menyatakan ketertarikannya untuk membeli wilayah tersebut.
Pernyataan ini sempat menuai kontroversi global dan dianggap tidak lazim dalam diplomasi modern.
Namun jika ditelusuri lebih dalam, niat Amerika untuk menguasai Greenland bukanlah hal baru.
Trump bukan presiden AS pertama yang melirik pulau terbesar di dunia itu.
Greenland telah lama dipandang Washington sebagai wilayah strategis, baik dari sisi geopolitik, militer, maupun ekonomi.
Sejarah menunjukkan ketertarikan Amerika terhadap Greenland sudah berlangsung lebih dari satu abad.
Awal Ketertarikan Amerika terhadap Greenland
Niat Amerika Serikat untuk memiliki Greenland pertama kali muncul pada abad ke-19.
Pada tahun 1867, tak lama setelah membeli Alaska dari Rusia, pemerintah AS mulai mempertimbangkan kemungkinan membeli Greenland dan Islandia dari Denmark.
Saat itu, Amerika tengah gencar memperluas pengaruh teritorialnya di kawasan Atlantik dan Arktik.
Meski rencana tersebut tidak berlanjut ke meja negosiasi resmi, dokumen internal pemerintah AS menunjukkan bahwa Greenland sudah dipandang sebagai aset strategis sejak lama.
Perang Dunia II dan Peran Strategis Greenland
Ketertarikan Amerika terhadap Greenland semakin menguat saat Perang Dunia II.
Ketika Denmark diduduki Jerman Nazi pada 1940, Amerika Serikat mengambil peran penting dalam “melindungi” Greenland.
AS membangun sejumlah pangkalan militer di wilayah tersebut untuk mencegah ekspansi Jerman di Atlantik Utara.
Dari titik ini, kehadiran militer Amerika di Greenland menjadi permanen.
Hingga kini, Pangkalan Udara Thule—yang kini dikenal sebagai Pituffik Space Base—masih menjadi bagian penting dari sistem pertahanan dan peringatan dini AS.
Upaya Pembelian Greenland Era Pasca-Perang
Pada 1946, Presiden Harry S. Truman secara resmi mengajukan tawaran kepada Denmark untuk membeli Greenland dengan nilai sekitar 100 juta dolar AS dalam bentuk emas.
Denmark menolak tawaran tersebut, tetapi kesepakatan kerja sama militer tetap berlanjut.
Penolakan ini tidak menghentikan kepentingan Amerika.
Sejak era Perang Dingin, Greenland diposisikan sebagai titik kunci dalam persaingan Amerika Serikat dan Uni Soviet, terutama terkait sistem radar dan pengawasan rudal.
Trump dan Kebangkitan Isu Greenland
Ketika Donald Trump kembali mengangkat isu pembelian Greenland pada 2019, dunia internasional bereaksi keras.
Denmark menyebut gagasan tersebut “absurd”, sementara Greenland menegaskan statusnya sebagai wilayah otonom yang tidak untuk diperjualbelikan.
Namun, di balik gaya komunikasinya yang kontroversial, Trump sebenarnya hanya mengulang pola lama kebijakan strategis Amerika.
Greenland tetap dipandang penting karena posisinya di Arktik, kedekatannya dengan Rusia, serta potensi sumber daya alam seperti mineral langka, minyak, dan gas.
Greenland di Tengah Perebutan Pengaruh Global
Saat ini, kawasan Arktik menjadi arena baru persaingan global, melibatkan Amerika Serikat, Rusia, dan China.
Perubahan iklim membuka jalur pelayaran baru dan akses terhadap sumber daya alam yang sebelumnya tertutup es.
Dalam konteks ini, Greenland bukan sekadar pulau terpencil, melainkan kunci geopolitik masa depan.
Sejarah panjang ketertarikan Amerika membuktikan bahwa isu penguasaan Greenland bukan fenomena sesaat, melainkan bagian dari strategi global jangka panjang Washington.
Trump mungkin bukan yang pertama, dan besar kemungkinan ia juga bukan yang terakhir.
SDA Mineral Greenland yang Jadi Magnet Amerika
Namun, di balik narasi geopolitik dan keamanan kawasan Arktik, ada faktor lain yang dinilai jauh lebih menggoda bagi Amerika Serikat—terutama bagi Donald Trump—yakni kekayaan sumber daya alam Greenland.
Klaus Dodds, profesor geopolitik dari Royal Holloway, University of London, menilai ketertarikan AS terhadap pulau ini tidak bisa dilepaskan dari potensi mineral strategisnya.
“Greenland memiliki sumber daya alam yang luar biasa,” ujar Dodds, merujuk pada posisi pulau tersebut dalam peta global transisi energi dan industri teknologi maju.
Pandangan serupa disampaikan Wakil Presiden AS J.D. Vance, yang secara terbuka memuji Greenland sebagai wilayah dengan potensi ekonomi besar.
Menurutnya, pulau ini bukan sekadar aset geografis, melainkan cadangan masa depan bagi industri strategis Amerika.
Greenland diketahui menyimpan berbagai mineral kritis yang sangat dibutuhkan dalam era transisi energi dan manufaktur teknologi tinggi.
Di antaranya adalah tanah jarang (rare earth elements), grafit, tembaga, dan nikel—komoditas utama dalam produksi baterai kendaraan listrik, turbin angin, semikonduktor, hingga sistem persenjataan modern.
Studi tahun 2023 yang dilakukan oleh Survei Geologi Denmark dan Greenland mengungkap bahwa sekitar 400.000 kilometer persegi wilayah Greenland kini bebas es, membuka akses terhadap struktur geologi kompleks yang terbentuk selama hampir empat miliar tahun sejarah Bumi.
Kondisi ini menjadikan Greenland salah satu wilayah paling menjanjikan di dunia untuk eksplorasi mineral berskala besar.
Tak hanya itu, Komisi Eropa mencatat bahwa 25 dari 34 material strategis penting Uni Eropa berpotensi ditemukan di Greenland.
Fakta ini menjadikan pulau tersebut sebagai titik krusial dalam persaingan global rantai pasok mineral, terutama di tengah upaya Barat mengurangi ketergantungan pada China.
Dari sisi energi fosil, Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) juga menilai perairan di sekitar Greenland berpotensi menyimpan cadangan minyak dan gas yang signifikan.
Meski eksploitasi energi fosil masih dibatasi oleh regulasi lingkungan dan politik lokal, potensi ekonominya tetap menjadi perhatian utama Washington.
Ironisnya, kekayaan tersebut selama bertahun-tahun nyaris tak tersentuh.
Hingga 2023, hanya dua proyek pertambangan yang aktif beroperasi di Greenland.
Namun, seiring mencairnya lapisan es akibat perubahan iklim, eksplorasi dan ekstraksi sumber daya di darat maupun lepas pantai diperkirakan akan semakin mudah.
Hal ini juga dicatat oleh Belfer Center, yang menyebut perubahan iklim justru mempercepat perebutan pengaruh di Arktik.
Janji kelimpahan sumber daya inilah yang dinilai “tak tertahankan” bagi sebagian elite politik dan ekonomi Amerika.
Daya tariknya begitu kuat, hingga mampu mengalahkan pertimbangan diplomatik, etika kolonialisme modern, bahkan resistensi dari Denmark dan pemerintah otonom Greenland sendiri.
Dalam konteks ini, ambisi Trump terhadap Greenland bukan sekadar manuver politik kontroversial, melainkan cerminan kepentingan strategis jangka panjang Amerika Serikat atas sumber daya masa depan dunia. (tam)
Source: Xinhua





