MEGAPOLITIK.COM - Pidato Presiden Prabowo Subianto di hadapan DPR RI pada 20 Mei 2026 memantik perhatian luas.
Pernyataan yang mengangkat kembali semangat Vivere Pericoloso atau “hidup menyerempet bahaya” dinilai bukan sekadar retorika politik, melainkan sinyal kuat perubahan arah geopolitik dan ekonomi Indonesia.
Pemerhati intelijen dan keamanan, Surya Fermana, menilai pidato tersebut sebagai langkah strategis untuk memutus rantai panjang eksploitasi sumber daya Indonesia oleh kepentingan asing.
Menurut Surya, kebijakan pembentukan BUMN ekspor untuk komoditas strategis seperti sawit dan batu bara menjadi langkah agresif pemerintah untuk mengambil posisi sebagai price setter di pasar global.
Jika dijalankan secara efektif, kebijakan itu diyakini mampu mendongkrak pendapatan negara secara signifikan.
Namun, ia menilai respons negatif dari sejumlah media internasional setelah pidato Presiden tidak bisa dianggap sebagai reaksi biasa.
“Dalam teori intelijen ekonomi, ketika suatu negara mulai mengubah status quo perdagangan global yang timpang, maka pihak-pihak yang selama ini diuntungkan akan melakukan berbagai counter measures. Salah satunya lewat infiltrasi narasi untuk melemahkan legitimasi kebijakan di mata publik internasional maupun domestik,” ujar Surya.
Ia menyebut fenomena tersebut sebagai bagian dari information warfare atau perang informasi, termasuk operasi pembentukan opini yang diarahkan untuk menggembosi agenda kedaulatan ekonomi nasional.





