Pada saat yang sama, berbagai tokoh religius dan politis di Iran dan negara tetangga seperti Irak menyatakan belasungkawa dan menyerukan persatuan nasional di tengah masa sulit ini.
“Tidak bisa merasa bahagia atas kematian seorang pemimpin negara, karena tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya”, ucap seorang guru sekolah dasar dari Shiraz, menampilkan kekhawatiran tentang masa depan negara yang sedang menghadapi ketidakpastian besar.
Reaksi Bahagia: Harapan dan Pelepasan
Di sisi lain, reaksi warga yang sangat berbeda muncul di berbagai penjuru Iran dan komunitas Iran di luar negeri.
Video dan laporan menunjukkan bahwa sebagian warga di kota seperti Karaj, Ilam, dan Izeh merayakan kematian Khamenei, meneriakkan sorak sorai, menari di jalan, dan bahkan meruntuhkan patung‑patung yang terkait dengan simbol rezim lama.
Seorang perempuan muda di Isfahan mengungkapkan bahwa ketika dia mendengar kabar tersebut, ia menangis campur tawa karena merasa ini bisa menjadi awal dari berakhirnya rezim yang telah menekan rakyat selama puluhan tahun.





