Menurutnya, pulau ini bukan sekadar aset geografis, melainkan cadangan masa depan bagi industri strategis Amerika.
Greenland diketahui menyimpan berbagai mineral kritis yang sangat dibutuhkan dalam era transisi energi dan manufaktur teknologi tinggi.
Di antaranya adalah tanah jarang (rare earth elements), grafit, tembaga, dan nikel—komoditas utama dalam produksi baterai kendaraan listrik, turbin angin, semikonduktor, hingga sistem persenjataan modern.
Studi tahun 2023 yang dilakukan oleh Survei Geologi Denmark dan Greenland mengungkap bahwa sekitar 400.000 kilometer persegi wilayah Greenland kini bebas es, membuka akses terhadap struktur geologi kompleks yang terbentuk selama hampir empat miliar tahun sejarah Bumi.
Kondisi ini menjadikan Greenland salah satu wilayah paling menjanjikan di dunia untuk eksplorasi mineral berskala besar.
Tak hanya itu, Komisi Eropa mencatat bahwa 25 dari 34 material strategis penting Uni Eropa berpotensi ditemukan di Greenland.
Fakta ini menjadikan pulau tersebut sebagai titik krusial dalam persaingan global rantai pasok mineral, terutama di tengah upaya Barat mengurangi ketergantungan pada China.
Dari sisi energi fosil, Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) juga menilai perairan di sekitar Greenland berpotensi menyimpan cadangan minyak dan gas yang signifikan.
Meski eksploitasi energi fosil masih dibatasi oleh regulasi lingkungan dan politik lokal, potensi ekonominya tetap menjadi perhatian utama Washington.
Ironisnya, kekayaan tersebut selama bertahun-tahun nyaris tak tersentuh.
Hingga 2023, hanya dua proyek pertambangan yang aktif beroperasi di Greenland.
Namun, seiring mencairnya lapisan es akibat perubahan iklim, eksplorasi dan ekstraksi sumber daya di darat maupun lepas pantai diperkirakan akan semakin mudah.
Hal ini juga dicatat oleh Belfer Center, yang menyebut perubahan iklim justru mempercepat perebutan pengaruh di Arktik.
Janji kelimpahan sumber daya inilah yang dinilai “tak tertahankan” bagi sebagian elite politik dan ekonomi Amerika.
Daya tariknya begitu kuat, hingga mampu mengalahkan pertimbangan diplomatik, etika kolonialisme modern, bahkan resistensi dari Denmark dan pemerintah otonom Greenland sendiri.
Dalam konteks ini, ambisi Trump terhadap Greenland bukan sekadar manuver politik kontroversial, melainkan cerminan kepentingan strategis jangka panjang Amerika Serikat atas sumber daya masa depan dunia. (tam)
Source: Xinhua





