Pemerintah AS bahkan sempat menyebut langkah terbatas Iran seperti membuka jalur kapal tanker sebagai bagian dari “keberhasilan diplomasi”.
Pernyataan dari Karoline Leavitt ini justru memunculkan pertanyaan baru: apakah AS benar-benar berada di posisi unggul?
Ancaman eskalasi terus membayangi
Pengiriman pasukan tambahan AS ke kawasan menunjukkan tensi belum mereda.
Sejumlah analis, termasuk Ian Bremmer, melihat situasi ini berpotensi mengarah pada eskalasi yang lebih besar, bukan penyelesaian cepat.
Di sisi lain, Iran hanya perlu mempertahankan tekanan untuk meningkatkan biaya yang harus ditanggung AS baik secara ekonomi maupun politik.
Konflik ini memperlihatkan satu hal penting: kekuatan militer besar tidak selalu menjamin kemenangan cepat.
Dalam perang modern, strategi, tekanan ekonomi, dan pengaruh global bisa menjadi faktor penentu.
Selama Iran masih mampu memainkan “kartu” strategisnya, dan AS masih terjebak dalam dilema, perang ini tampaknya belum akan menemukan titik akhir dalam waktu dekat. (sal)





