Selain pembelian barang, Indonesia juga disebut akan memfasilitasi sedikitnya US$10 miliar investasi langsung ke AS, terutama pada proyek rekayasa, pengadaan, konstruksi, serta pengembangan energi seperti amonia biru.
Dengan demikian, komitmen pembelian dan investasi menjadi salah satu pilar utama dalam arsitektur ART, bukan sekadar elemen pelengkap dari kebijakan tarif.
Menyeimbangkan Neraca Perdagangan
Selama beberapa tahun terakhir, Indonesia mencatat surplus perdagangan dengan Amerika Serikat.
Komitmen pembelian hingga US$38,4 miliar dinilai sebagai mekanisme untuk mempersempit kesenjangan tersebut.
Seiring dengan pembukaan akses pasar dan penyesuaian tarif dalam kerangka ART, arus impor dari AS berpotensi meningkat dalam beberapa tahun mendatang.
Hal ini dapat memengaruhi komposisi perdagangan bilateral dan struktur impor nasional.





