MEGAPOLITIK.COM - China sudah memiliki langkah untuk mengatur bagaimana influencer online menyampaikan informasi dan melakukan endorsement kepada pengikut mereka.
Pemerintah telah lama berupaya memoderasi konten digital, namun munculnya format real-time seperti livestreaming dan video singkat membuat penyaringan informasi ilegal atau tidak diinginkan semakin sulit.
Oleh karena itu, aturan pengendalian baru terus diperbarui seiring evolusi internet.
Lantas, bagaimana penerapan influencer di negara satu partai tersebut?
Aturan Lisensi untuk Konten Profesional
Menurut ketentuan baru yang diumumkan Administrasi Radio dan Televisi Nasional China dan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, influencer atau penyiar livestream yang menyebarkan konten profesional di bidang seperti kedokteran, keuangan, hukum, dan pendidikan harus memiliki lisensi terkait bidangnya.
Operator platform bertanggung jawab meninjau sertifikasi penyiar dan mencatatnya dalam data resmi.
Bahkan, penyiar dan konten yang dihasilkan kecerdasan buatan (AI) tunduk pada persyaratan yang sama seperti manusia.
Kebijakan ini secara otomatis meningkatkan standar bagi pembuat konten independen, sekaligus membantu mengatasi disinformasi, terutama saat opini mereka berpotensi memengaruhi keputusan kesehatan atau keuangan publik.
Livestreaming: Fenomena Utama di China
Livestreaming telah menjadi cara utama masyarakat China mengonsumsi informasi dan berbelanja, mirip TV shopping di era mobile internet.
Per Desember 2021, lebih dari 700 juta orang menggunakan livestreaming, atau 68% populasi internet China.
Platform top di China termasuk Douyin (versi Tiongkok TikTok), Kuaishou, serta Huya dan Douyu yang fokus pada konten gaming.
Livestreaming juga digunakan aplikasi keuangan untuk berbagi tips investasi atau aplikasi kesehatan untuk konsultasi dokter real-time.
Selain itu, aturan baru juga mencakup mekanisme penyaringan komentar pengguna sebelum tayang, yang menimbulkan perdebatan tentang ruang ekspresi di platform digital.





